Uniknya Makanan Khas Betawi Roti Buaya yang Penuh Makna

1. Uniknya Makanan Khas Betawi Roti Buaya yang Penuh Makna

Makanan khas Betawi selalu memikat banyak orang, termasuk Anda yang tinggal di Jakarta. Bukan hal baru lagi jika makanan yang Anda makan saat ini merupakan sajian khas masyarakat Betawi tempo dulu. Bila berbicara mengenai makanan unik dari Betawi pastinya Anda sudah tidak asing dengan sajian roti buaya.

Ya, roti yang identik dengan bentuk unik tersebut memang biasanya menjadi bagian penting dalam pesta pernikahan. Hampir di semua pesta upacara pernikahan khas Betawi menghidangkannya. Roti buaya juga menjadi pelengkap seserahan sebelum upacara pernikahan dilangsungkan. Oleh karena itu, biasanya roti buaya dikemas dalam sajian parcel yang menarik.

Bila di beberapa daerah kenduri tradisional dilakukan dengan daging, maka masyarakat Betawi memiliki cara unik. Roti buaya juga menjadi makanan khas Betawi yang disajikan untuk acara kenduri tradisional. Tapi, tahukah Anda roti buaya juga menyimpan nilai histori yang tinggi. Untuk itu kami ajak Anda mengulasnya dalam penjelasan di bawah ini.

Asal Mula Roti Buaya Betawi

Saat menyebut roti tradisional ini kebanyakan orang akan mengingat buaya. Seperti namanya roti buaya memang memiliki bentuk yang sangat mirip dengan binatang tersebut. Umumnya, roti dibuat dengan adonan khusus dan dicetak dengan bentuk buaya. Bila mencermatinya Anda akan melihat bagian-bagian roti yang mencerminkan buaya. Seperti mata, kaki, moncong sampai ekornya.

Buaya barangkali tidak lepas dengan konotasi negatif. Apalagi seringkali namanya merujuk pada hal buruk seperti julukan buaya darat. Bila diartikan buaya darat menunjukkan simbol ketidaksetiaan. Tapi, apakah makanan khas Betawi ini merepresentasikan ketidaksetiaan? Bila maknanya menunjukkan sisi negatif mengapa roti buaya selalu ada dalam tradisi upacara adat pernikahan Betawi?

Jawaban tersebut sebenarnya bisa Anda dapatkan dengan melihat kembali sejarah adanya roti buaya. Roti buaya dalam setiap pesta pernikahan Betawi dipengaruhi oleh datangnya bangsa Eropa di tanah air. Dahulu kala orang Eropa menunjukkan rasa cinta dengan memberi bunga. Karenanya masyarakat Betawi menganggap perlu adanya simbol untuk menyatakan cinta pula.

Maka dipilihlah roti yang memiliki bentuk unik yaitu buaya. Kehadiran roti buaya kala itu menjadi simbol cinta. Bentuk buaya dipilih sebab perilakunya yang cenderung kawin sekali seumur hidup. Masyarakat Betawi meyakini hal tersebut akan terjadi turun temurun. Sejak saat itu dibuatlah roti buaya sepasang dengan ciri khas betina berukuran kecil.

Keunikan Roti Buaya Betawi

Selain dari sejarahnya, makanan khas Betawi roti buaya juga memiliki sisi keunikan. Pada dasarnya sebuah hidangan entah yang disajikan dalam bentuk kudapan maupun roti memiliki tampilan yang istimewa. Tujuannya adalah orang yang melihat dan memakannya merasa senang dan menikmati makanan tersebut.

Saat Anda menjumpai roti buaya betina cobalah untuk melihat bagian punggung dan sampingnya. Pada bagian atas terdapat roti berukuran kecil. Roti berukuran kecil tersebut seakan menumpuk pada bagian pungung buaya. Layaknya induk buaya sedang memikul anaknya. Uniknya, hal ini dimaknai sebagai simbl kesetiaan dalam berubah tangga sampai anak cucu.

Keunikan lainnya ialah teksturnya yang mengalami pergeseran. Dahulu roti buaya diproduksi dengan tekstur yang sangat keras. Bahkan roti dibiarkan sampai membusuk, tujuannya sebagai makna langgengnya hubungan pernikahan sampai akhir hayat. Namun, seiring waktu roti buaya dibuat dengan tekstur sangat lembut agar bisa dimakan. Umumnya roti dibagi ke kerabat sebelum menikah.

Nah, itulah uniknya roti buaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Betawi hingga saat ini. Tradisi membagikan roti buaya saat menjelang pernikahan masih tetap terlaksana sebagai bagian dari budaya Betawi. Kini, berkat perkembangan zaman Anda bisa mencicipi menu makanan khas Betawi tersebut karena teksturnya sudah tidak keras lagi.

Keyword: makanan khas Betawi

Deskripsi: Makanan khas Betawi Roti Buaya memiliki bentuk yang unik dan penuh dengan makna. Bentuknya menjadi simbol kelanggengan hubungan pernikahan pada adat Betawi.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>